Di manakah adanya jembatang gantung terpanjang se-Asia..? Jawabannya adalah di Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat. Kalau buat saya, kelebihan Situ Gunung bisa ditambah satu lagi, yakni salah satu lokasi favorit ngajak anak camping. Dulu waktu belum ada jembatan, pernah bawa Lana dan Keano camping di sini. Nah, setelah ada jembatan jadi tambah pengen datang lagi.
Camping with kids: Ke Situ Gunung (lagi) demi Jembatan Gantung
23:36:00Camping With Kids: Mengawali Petualangan di Batu Tapak Sukabumi
01:07:00![]() |
Saya sedang mengingat pertama kali kami sekeluarga pergi camping. Umur Lana belum 2 tahun waktu itu. Belum punya adik juga, dan eyang masih sehat diajak trekking.
Atas rekomendasi Bang Leo Wijaya, senior pencinta alam di kampus sekaligus insruktur diving ngehits di kalangan broadcaster, kami ke Batu Tapak Camping Ground di Cidahu Sukabumi. Lokasinya di kaki gunung Salak. Persis sebelahan sama pintu masuk wana wisata Cangkuang.
Untuk sampai di sini, kalau dari arah Jakarta, di jalan raya Sukabumi setelah pasar Cicurug, ambil belokan kanan ke arah Javana Spa. Lokasinya kira-kira 10 km dari jalan raya Sukabumi.
Yes, di sini memang menyediakan berbagai paket yang bisa dipilih untuk camping. Mau bawa badan doang juga bisa, karena segala fasilitas sudah disediakan. Tapi, biar ada kesan bertualang sedikit, waktu itu kami membawa tenda sendiri. Dan meski tampilan kantin di pintu masuk menggoda, kami juga memilih masak sendiri.
Kebetulan pas datang, tenda rombongan paket VIP sebelum kami, belum dibongkar semua. Jadilah, sama petugasnya ditawarin tenda dan fly sheetnya. Tapi karena bawa tenda sendiri, dengan sedikit nego buat harga perkenalan, cuma tawaran fly sheetnya saja yang diambil. Akhirnya kami bisa camping di sini dengan harga reguler, tapi fasilitasnya VIP. Selain kamar mandi dengan air panas, tenda kami berdiri di bawah naungan fly sheet yang cukup lebar. Jadi kalau hujan gak kena air langsung.
Satu hal yang saya takutkan waktu pertama kali ngajak Lana camping, adalah tubuh mungilnya yang gak kuat sama hawa dingin. Bisa-bisa panas atau diare nanti. Saya juga takut kalau tiba-tiba malam dia rewel dan minta pulang. Apalagi, walau listrik masuk lokasi camping, namanya juga nginap di luar ruang, penerangan tentu saja terbatas. Untungnya semua yang saya khawatirkan gak terjadi. Berbekal kasur angin, bantal guling, selimut dan sleeping bag dari rumah, Lana tidur nyenyak di dalam tenda. Ia juga bangun pagi dengan ceria. Kayaknya Lana justru menikmati udara dingin dan pemandangan gunung cantik yang menyambutnya.
Usai sarapan, kami trekking menuju air terjun. Jaraknya sekitar 500 meter dan jalannya menurun. Air terjun yang kami tuju bukan alami. Kolam ini dibuat memang khusus untuk menyenangkan anak-anak yang sering menghabiskan waktu camping di sini. Di sebelah kolam ada sungai kecil berair deras dan jernih. Sungainya dangkal dan banyak dihiasi batu besar. Serulah main air. Tapi saya gak mau lama-lama. Airnya dingggiiiin banget dan saya menghindari Lana kecil masuk angin. Selesai main air, Lana langsung mandi dan segera dibungkus mantel. Gak lupa susu hangat dan sepiring makanan langsung disuapi.
Kombinasi capek dan perut kenyang ternyata jadi obat tidur mujarab. Di perjalanan pulang, Lana tertidur dalam baby carrier yang dipanggul papanya. Makasih lagi buat Bang Leo yang meminjamkan baby carrier super nyaman. Lucu ngeliat Lana terangguk-angguk tidur di gendongan sepanjang jalan. Tiba di lokasi tenda, Lana masih pulas, bahkan sampai baby carrier lepas dari punggung. Siang itu menjadi milik Lana, yang masih juga tidur setelah dipindahkan ke dalam tenda.
Awal yang bagus Nak, sebab setelah kejadian pertama ini, kami tak pernah ragu mengajak Lana camping lagi.
****
Camping With Kids: Dua Malam di Situ Gunung
14:07:00Kami sedang sibuk packing ketika Novi, teman baik saya sejak masa kuliah menanyakan apakah saya, suami serta Lana dan Keano jadi camping. Novi mengirimkan pesan lewat whatsapps sekitar jam 8 pagi. Ketika ia tahu kami jadi mau ke Situ Gunung, Novi langsung ingin ikut bersama kedua anaknya, Rakha dan Echa. Yes.. saya sih seneng aja. Bocah-bocah jadi ada temannya. Biasanya. kalau kami camping cuma berempat, aktivitas main mereka yah.. cuma berduaan. Tambah teman pasti lebih seru. Apalagi sebelumnya anak-anak kami sudah saling kenal.
Camping 2 in 1: Kaki Gunung dan Pinggir Pantai (Video Sawarna)
20:55:00
Liburan semesteran sekaligus libur natal dan tahun baru 2016 lalu, termasuk liburan yang complicated. Sudah janji ke anak-anak buat camping dan jalan-jalan, tapi gak bisa ninggalin rumah lama-lama dan jauh-jauh. Karena terbatas waktu (dan juga dana), pilihan jatuh ke Sukabumi dan Banten. Dengan itinerary dan waktu yang dipangkas juga. Tentu saja atas restu Eyang yang dengan terpaksa ditinggalin di rumah.
Kemping jadi menu utama. Selain sudah niat dan direncanain dari lama, ternyata lumayan juga jadi irit. Budget penginapan otomatis terpangkas. Jadilah camping 2 in 1, alias dalam satu trip ini dapat dua suasana kemping yang berbeda. Dapat dua malam di Situ Gunung Sukabumi, dan semalam di Pantai Pasir Putih Sawarna, Banten.
Gelar tenda di Sawarna ini, jadi pengalaman pertama kami kemping di pinggir pantai. Di atas pasir putih, dan ditemani suara deburan ombak setiap waktu. Setiap waktu juga, Lana dan Keano bisa nyebur dan main ombak. Baru nyampe langsung nyebur. Sebelum mandi, dan bangun tidur, nyebur lagi. Tinggal lari dari tenda. (Terlampir di video)
Di Situ Gunung, situ atau danaunya, dan juga Curug Sawer sudah pasti jadi agenda kami jalan-jalan di pagi hari. Adem, seger, khas udara pegunungan. Kaki gunung Gede Pangrango.
Dua lokasi. Dua suasana. Dua suhu udara. Walaupun relatif pendek waktunya, camping 2 in 1 ini terhitung sukses mengisi liburan Lana Keano.
Bersambung ...
***













