Trip
Hongkong dan sekitarnya di Tahun 2016 kemarin selalu jadi trip yang spesial
buat kami. Perjalanan seminggu keliling Hong Kong, Shen Zhen, Macau, dan KualaLumpur sepertinya jadi pelesiran yang sempurna buat kami. Sepanjang perjalanan anak-anak
selalu ceria, sehat-sehat, dan itinerary juga relatif lancar. Menyenangkan, terutama karena Hong Kong dengan Disneylandnya memang salah satu bucketlist-nya
Lana.
Hong Kong Trip 2016, ...tahun 2017 bagaimana?
16:51:00(Hampir) Seharian Manjat dan Lempar-lempar Pisau
20:03:00
Hampir seharian lempar-lempar pisau dan
manjat-manjat dinding beserta antre-antrenya, ternyata masih kurang buat Lana
Keano. Sepintas, kalau dilihat mainnya cuma itu-itu saja. Habis lempar pisau,
antre manjat. Habis manjat, lempar pisau lagi. Tapi ternyata sampai pulang
sebelum magrib, anak-anak gak ada bosennya sama sekali. Kalau gak dipaksa
pulang, maunya main terus. Belum lagi lihat wall
yang sudah ditembak lampu sorot (karena mulai gelap), semakin menggoda
anak-anak untuk terus main.
Namanya anak-anak kalau sudah ngumpul, jadi rame
lah suasana. Antre giliran manjat, dibantuin kakak-kakak panitia yang sabar
melayani bocah-bocah yang bolak balik manjat gak ada henti. Saking seringnya
bolak balik antre, gak tahu sudah berapa kali Lana Keano nyobain manjat.
Selain pengalaman manjatnya, buat Keano yang lebih
seru kayaknya pas gelantungan di tali. Keano senang ‘terbang’ gelayutan. Malah
bergaya kaya pesawat terbang, yang bikin nyengir semua orang yang lihat di
situ.
“Ayo mah manjat lagi sampai atas, biar dapat mobil” kata Keano ke mamanya. Gak tahu mobil beneran atau mobil hotwheel yang dia maksud. Dari mana juga Keano tahu kalau sticker di atas ada hadiah mobilnya. Tapi yang pasti, emang gak ada hadiah mobil, hotwheel apalagi mobil beneran. Dan kali ini Yossie gak lupa nyabutin sticker yang ditempel seperti pesenan Keano. Ditukerin di tenda panitia, dapat hadiah minuman dan buff. Lumayan.
Dua kali Yossie manjat, lumayan tinggi juga dan kelihatan rileks manjatnya. Dan baru tahu (mungkin pernah tahu tapi lupa) kalau emaknya ternyata adalah mantan atlet manjat DKI. Jadi yang begini-beginian, biar jatah emaknya lah buat hibur dan ngajarin anak-anak.
Selain manjat, satu lagi yang anak-anak susah behenti adalah main (atau olah raga) lempar pisau. Yang ini malah lebih sering lagi, dan bolak balik juga. Ternyata dari mulai masuk parkiran, Lana sudah lihat dan ngincer mau nyoba lempar pisau. Awalnya Lana yang paling semangat. Keano masih malu-malu sama om-om atau bapak-bapak yang jadi pendamping dan ngajarin anak-anak.
Pisau yang dipakai adalah pisau latihan. Bagian besinya saja. Kaya lempengan besi yang cuma tajam di ujung. Jadi aman buat dipegang. Tapi cukup buat nancep di target yang terbuat dari kayu.
Gak semuanya juga lemparan anak-anak kena target.
Ada yang ke atas, ke bawah, ke samping. Atau kena besi menara. Malah ada yang
jauh banget hampir kena motor yang diparkir. Tapi beberapa kali lemparan Keano,
terutama Lana sering pas kena di target. Selain arah lemparan, jarak pelempar
ke target juga sangat berpengaruh. Terutama putaran pisaunya di udara, biar pas
ujung tajamnya yang jatuh kena di target.
Sukses juga jalan-jalannya hari ini. Selain manjat
dan lempar pisau yang jadi menu utama kami hampir seharian, cuma main hoki yang
sekali jadi selingan di antara manjat dan lempar pisau. Selingan lainnya,
istirahat dan jajan minuman sama makanan ringan di food truck yang ada di situ.
Camping yang Penuh Godaan
20:00:00Inilah camping yang penuh godaan. Saking banyaknya godaan yang datang, kemping kali ini bisa dibilang sangat-sangat jauh dari kata sukses. Masih panjang menuju tengah malam, bahkan jam belum menunjukkan pukul delapan, tapi satu per satu peserta kemping sudah menyerah dan mulai meninggalkan tenda. Niat buat tidur dan bermalam di tenda akhirnya pupus. Padahal dari siang, Lana dan Keano sudah semangat, dan sepertinya punya tekad kuat buat bermalam di tenda. Tapi apa daya, memang suasananya gak mendukung. Saya cuma bisa pasrah melihat anak-anak meninggalkan tenda. Wong saya juga kena, gak kuat menerima godaan. Dari pada dipaksain, akhirnya tenda ditinggalkan dan dibiarkan kosong begitu saja.
Awalnya Keano yang menyerah duluan. Godaan terbesar buat Keano adalah dia merindukan hembusan AC sambil tiduran menonton Disney Junior atau Disney Chanel. Ternyata Keano memang sudah ngantuk, jadi agak rewel dengan udara yang agak panas di tenda. Dia akhirnya meninggalkan tenda. Benar saja ketika menengok ke kamar, angka 20 derajat celsius sudah membuat Keano tertidur pulas dengan Disney Junior di tv yang masih menyala.
Keano sudah menyerah, tapi Lana masih bertahan di tenda. Sudah tidur malah. Saya buka resleting tenda pelan-pelan mau keluar tenda. Lana lihat dan terbangun. Saya lalu bilang "...tunggu bentar ya mbak, papa mau nonton bola dulu bentar". Di akhir pekan memang biasanya jadwal saya begadang nonton Liga Inggris dan liga-liga Eropa lainnya. Selain Premiere League yang biasanya main dari petang sampai dini hari, waktu itu saya mau nonton siaran langsung Persib di tv. Saya keluar tenda, dan resleting saya gak tutup rapat semua. Maksudnya biar udara luar bisa masuk lebih banyak, ngurangin gerah di tenda.
Belum setengah jam nonton bola, Lana masuk rumah sambil garuk-garuk tangannya. Pas saya lihat tangan dan kakinya, ternyata sudah bentol-bentol gede lumayan banyak. Ternyata akibat saya gak nutup rapat resleting tenda, bukan cuma angin yang masuk, nyamuk juga masuk dan nyerang lana di dalam tenda.
Ya udahlah, akhirnya Lana menyusul Keano di kamar. Tidur nyenyak di atas kasur empuk dengan bantuan AC yang setia menghembuskan angin dinginnya. Sedangkan saya kembali ke rutinitas seperti sedia kala. Begadang nonton bola sampai pagi, sambil lihatin wajah-wajah tenang Lana Keano yang sedang tertidur pulas. Gagalnya kemping di malam itu bukan sesuatu yang harus disesali. Lagian sudah terobati dengan menangnya Persib, dan juga tim jagoan di Liga Inggris. Hidup Persib, GGMU!!!
Itulah godaan terbesar kami saat kemping. Bukan hantu, hujan, angin, dingin, atau binatang buas. Begitulah resiko kalau kemping di depan rumah. Untuk bayar utang kemping ke anak-anak, Insya Allah libur sekolah ini rencananya mau kemping. Yang pasti bukan di depan rumah lagi... hehe Piss!!
***
Warna Warni di Taman Pelangi Monjali
04:26:00Jalan-jalan lihat lampion di malam hari, penuh warna warni, ya di Taman Pelangi Monjali, alias Monumen Jogja Kembali. Gak cuma warna warni dan terang lampionnya saja yang menarik, tapi juga rupa-rupa bentuk dan tampilannya. Beragam replika seperti bentuk binatang, tanaman, alat musik, tokoh kartun, bangunan, juga nuansa atau ciri suatu kota dan negara ada di sini. Gak banyak negara sih, yang ada misalnya nuansa Korea dan Jepang.
Masuk ke Taman Pelangi ini sebenarnya gak ada di dalam rencana liburan kami kali ini. Gak masuk di itinerary. Tapi karena setiap ke Jogja, tempat ini selalu dilewati, apalagi base camp atau tempat nginap kami gak jauh dari Monjali di Ring Road Utara (rumah keluarga di daerah Candi Gebang Condong Catur dan di Jalan Monjali). Akhirnya kami masuk Taman Pelangi juga. Lumayan lah, biar tahu saja dan buang penasaran sama si Taman Pelangi ini. Yang masih penasaran cuma Lana, karena Lana memang lagi gak ikut. Pisah mobil, ikut sepupu-sepupunya jalan-jalan. Katanya main ice skating di salah satu mal di Jogja.
Sebelum masuk base camp dari jalan keliling Jogja, kami melipir dulu ke Taman Pelangi. Mumpung masih ada waktu dan masih seger. Belum jam tujuh malam juga. Gak mau rugi, manfaatin waktu semaksimal mungkin.
Harga tiket masuk ke Taman Pelangi ini 15 ribu per orang. Fasilitas dan kebersihan lumayan bagus, terjaga. Tamannya lumayan luas. Karena malam, jadi berasa seger dan adem udaranya. Gak tahu dah kalau siang. Tapi memang taman ini juga bukanya cuma dari sore sampai jam sepuluh atau sebelas malam. Kalau siang juga, mana kelihatan cahaya lampionnya.
Selain muter-muter lihatin lampion-lampion berwarna warni, di sini banyak permainan juga. Ada trampolin, becak mini, perahu air, bola air, bom bom car dan banyak lainnya. Rata-rata harga tiket mainannya 10-20 ribu per sekali main. Pilihan favorit Keano, sudah pasti main bom bom car. Cukup bayar 10 ribu sekali main, sudah puas dan senang jadi supir ugal-ugalan, main kebut-kebutan dan tabrak-tabrakan.
Selesai main, sekadar nongkrong duduk-duduk nyantai di taman ini juga asyik. Makin jos, sambil minum sekoteng atau wedang jahe.
Buat Keano, ternyata Taman Pelangi ini berkesan juga. Selain lampionnya, teuetep gak dimana gak di mana, bom bom car jadi favorit dan bikin senang maksimal. Sampai rumah diceritain sama Lana, sampai kakaknya ngiler pengen ke Taman Pelangi juga. Tapi sampai ninggalin Jogja, gak sempat juga ke taman ini. Maafin ya mba Lana :p
****
Pasar yang Paling Indah Hanya Pasar Kami
09:15:00
Dari sekian banyak
pasar yang pernah didatangi. Mulai dari Grand Bazaar di Istanbul Turki, atau Chorsu
Bazaar di Tashkent Uzbekistan. Hingga pasar Agung dan pasar Kemiri di kota
Depok. Hanya pasar yang satu ini ada nilai lebih dan keistimewaan tersendiri.
Pasar itu seni.
Seni bertransaksi dan seni berkomunikasi.
Di pasar ada interaksi,
bertemunya penjual dan pembeli.
Ada komunikasi, ada
silaturahmi.
Pasar adalah
urat nadi.
Urat nadi
ekonomi rakyat.
Maka tak heran,
pasar yang satu ini begitu dinanti.
Karena di sini ada
salah satu urat nadi kami.
Keano, setengah
dari denyut kehidupan kami.
Inilah Pasar
kami. Market Day SAI (Sekolah Alam Indonesia)
Hehe.. Kalimat
di atas, hanyalah sekedar intro.
Sebenarnya kami cuma
ingin menyimpan memori dan sedikit foto.
Menyimpan rasa
senang kami akan perubahan Keano.
Anak yang tadinya gak mau sekolah, jadi paling
semangat sekolah.
Dan di Market Day yang pertamanya ini (21 Oktober 2015),
semoga
menumbuhkan semangat entrepreneur Keano
Pasar yang
paling indah, hanya pasar kami.
Taman yang
paling indah, hanya taman kami (TK A-Air)
Jalan-jalan Imlek: Dari Takut Sampai Ketagihan Nonton Barongsay
19:53:00
Imlek:
antara tradisi, Barongsay, Naga Liong, dan jalan-jalan di Mal
Berterima
kasihlah kepada almarhum Gus Dur. Perayaan
imlek di Indonesia memang gak bisa dilepaskan dari sosok presiden dan guru
bangsa yang terkenal pluralis ini. Terobosannya mengeluarkan Keppres tahun 2000,
sekaligus menghentikan Inpres tentang Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina
yang sudah ada sejak tahun 1967, menjadi peristiwa bersejarah bagi warga keturunan Tionghoa dan seluruh
bangsa ini. Setelahnya, masyarakat Tionghoa bisa dan bebas merayakan perhelatan
kebudayaannya secara terbuka. Imlek juga kemudian menjadi hari libur nasional.
Tradisi
perayaan tahun baru imlek, juga menjadi ‘tradisi’ bagi kami setiap tahunnya, untuk
jalan-jalan mengajak anak ikut merasakan kemeriahan hari raya warga Tionghoa
ini. Minggu-minggu jelang imlek atau pas di hari libur imlek, biasanya kami
manfaatkan buat sekedar jalan-jalan mengisi weekend
atau hari libur. Merasakan suasana akhir pekan yang berbeda.
Di sisi
lain, imlek juga menjadi momen penting yang biasa dimanfaatkan oleh pengelola
mal untuk menarik pengunjung. Seperti kami yang selalu menjadi ‘korban’ mal
setiap tahunnya, sehingga rela ‘tur imlek’ hingga ke Pondok Indah Mall, Grand
Indonesia, Lotte Avenue, Kota Kasablanka, dan Margo City Depok. Apalagi kalau
malnya terbilang baru, seperti di Central Park (2012) dan Bay Walk Pluit (2015).
Klop sudah, jadi kami bisa melihat perayaan Imlek, sekaligus penjajakan mal.
![]() |
| Imlek di Pondok Indah Mall, 2014 |
Kata “Imlek”
sebenarnya hanya digunakan dan populer di Indonesia. Di Tiongkok menyebutnya
“Guo Nian” atau “Xin Jia” yang berarti bulan baru. Sedangkan di barat lebih
terkenal dengan sebutan Chinese New Year.
Dari hasil ‘tur
imlek’ setiap tahunnya, bagi kami perayaan imlek di Central Park tahun 2012 bisa jadi
masih yang terbaik sampai sekarang. Lokasi yang luas, outdoor, dan atraksi yang
lebih kolosal jadi pertimbangannya.
![]() |
| Imlek di Central Park. Jalan-jalan di mal, bukan berarti hanya sekadar berjalan kaki. Terkadang diselingi tiduran dan merangkak J |
Imlek belum
lengkap kalau gak ada lampion. Biasanya banyak digantung buat penghias,
sekaligus bisa jadi lampu penerang. Makna lainnya, lampu bulat berwarna merah
ini dipercaya sebagai penerang rezeki pengguna dan sekitarnya.
Selain
lampion, atraksi naga Liong dan juga barongsay jadi menu wajib tontonan setiap
imlek. Lana bisa sampai dua kali nonton di hari yang sama. Sesi siang dan sore,
atau sesi sore dan malam. Padahal semua isi dari atraksinya sama saja, tetap
saja dia anteng nonton paling depan nyelip-nyelip di antara penonton lain.
Kalau Keano lain lagi, dia perlu adaptasi agak lama buat nonton barongsay lebih dekat. Biasanya
ambil jarak dulu dan ancang-ancang dari jauh. Karena Keano gak nyaman dengan
suara berisik musik pengiring barongsay, yang malah kadang bikin kaget pas
musik baru mulai. Sedikit takut, dan maunya dekat-dekat sambil dipegang atau
malah digendong.
![]() |
Naga, hewan mitologi Tionghoa
populer, simbolisasi sumber kebaikan dan kemakmuran. Naga juga melambangkan
kejantanan dan kesuburan.
|
![]() |
Atraksi naga liong plus kembang
api di Central Park, 2012
|
Jalan-jalan
pas perayaan imlek di mal sekitar Jakarta Barat atau Jakarta Utara, rasanya
beda dengan di Jakarta Selatan atau Depok dan Cibubur misalnya. Aura di barat
dan utara rasanya ‘lebih Tiongkok’ karena memang banyak pengunjung mal, warga
keturunan Tionghoa.
Di Baywalk
Pluit, aura Tionghoa sangat kental. Sudahlah ini perayaan imlek, para
pengunjung yang datang juga dominan warga keturunan Tionghoa. Belum lagi
pengisi acara hiburannya, para pemain sirkus didatangkan langsung dari
Tiongkok. Penyanyi Putri Ayu juga lebih banyak menyanyikan lagu berbahasa
Tiongkok/Mandarin. Yang menarik juga, band pengiring Putri Ayu ini sangat legend, alias sudah tua-tua, dan asli
keturunan Tionghoa. Yang dalam bayangan saya, mungkin semua personil band yang
bersahaja ini dulunya seperti yang digambarkan di film-film Hongkong; nge-gank. Atau minimal mereka nakalnya
bareng sejak dari jaman mudanya :p
![]() |
| Imlek di Baywalk Pluit Mall, Februari 2015 |
Perayaan
imlek juga identik dengan warna merah. Mulai dari lampion, baju tradisional
cheongsam, barongsay, sampai dekorasi dan pernik-pernik lainnya biasanya
dominan merah. Warna merah memang warna favorit orang Tionghoa. Merah dipercaya
mebawa keberuntungan, kebahagiaan, kemakmuran, dan hal-hal positif lainnya. Makanya
di perayaan imlek banyak dekorasi bernuansa merah, yang artinya imlek ini
disambut dengan suka cita dan meriah. Begitu popolernya warna merah, bisa
dilihat juga dari kata ‘angpau’ atau amplop kecil yang biasa dipakai buat nyecep, ini berasal dari kata “Hong Pao”
yang berarti kantung merah.
![]() |
| Penyanyi Putri Ayu dalam nuansa merah imlek |
Selain
melihat perayaan imlek, jalan-jalan imlek di mal juga biasanya sekalian buat
belanja bulanan, atau malah sekedar buat penjajakan mal yang terbilang baru. Seperti
di Baywalk Pluit, salah satu mal asyik di Jakarta yang mempunyai view langsung ke laut. Anak-anak senang
bermain di waterfront, main-main
di depan patung-patung lucu berbentuk ikan dan juga hiasan merak. Belum lagi setiap
malam ada musical water fountain atau
pertunjukan air mancur yang dipadukan dengan atraksi lampu di sisi luar mal yang
langsung menghadap ke laut.
![]() |
| Area Waterfront, salah satu spot unggulan Baywalk Pluit Mall. Beli 'es krim Korea' juga. |
Di sisi
lain, jalan-jalan di mal juga terkadang menimbulkan ‘perang batin’. Antara
takut anak ‘tergiring hedonis konsumerisme’ (halah..) dan pemikiran kalau anak
juga harus tahu lingkungan dan budaya sekitar. Belum lagi ini imlek, yang kalau-kalau
bagi sebagian golongan garis keras mungkin berbeda pendapat, karena dianggap sudah
‘merestui’ dan merayakan perayaan umat agama lain. Tapi ah sudahlah, gak usah
terlalu serius. “Gitu saja kok repot” kalau kata Gus Dur. Dan seperti kata Gus
Dur juga, perayaan Imlek itu lebih mendekati
proses tradisi dan budaya daripada ritual agama. Dan perayaan imlek juga gak ada urusan dengan
agama. Jadi? ... Gak usah ribet, orang ini
cuma buat jalan-jalan saja kok. Dan, tahun depan, tetap menunggu ada apa lagi saat perayaan
imlek. Dan tetap jalan-jalan imlek. Entah di mana.
***




































